[Birthday Post] Things I Love about You

•2 Januari 2017 • 1 Komentar

Because the most beautiful things are not things.

They are people, and places, and memories, and pictures.

Feelings, and moments, and smiles, and laughter.

 

whatsapp-image-2017-01-02-at-17-37-34

12 THINGS I LIKE ABOUT YOU

Special for my twin and best friend, D.S. Happy 27th. Happy December wishes. Here are 12 things you have to know about you.

Lanjutkan membaca ‘[Birthday Post] Things I Love about You’

Mempermainkan Api

•14 November 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

yylxciw

Sayang,

Hatiku gersang

Nyawanya lari dibawa insan

menjelmakan harapan menjadi kesepian

Detak jantung lain datang

membawa satu permainan

Dilukiskan namanya sebagai api

dalam pagutannya mata terpejam sunyi

Tapi, Sayang,

Hatiku gersang

Kita kehilangan haluan

sama-sama merindu diselamatkan.

 

 

“Ya maaf.”

Lanjutkan membaca ‘Mempermainkan Api’

Cinta itu Luka

•31 Oktober 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cinta menjelma atas nama luka

Insan jengah, menolak cita

Seorang perempuan memperjuangkan fajar di bibirnya

Berubah menjadi senja jingga di jiwanya

Bagai muara danau berkubang di sudut mata

Yang dingin dan tak bernyawa

february-snowstorm-075

Lanjutkan membaca ‘Cinta itu Luka’

A Cup of Sympathy

•20 Agustus 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

coffee-cups-monochrome-2560x1600-wallpaper

“Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?”

Kamarku remang. Ada sisa-sisa cahaya keemasan dari lampu meja di atas nakas dua laci yang berdiam tepat di samping ranjang. Telah bermenit-menit lamanya kamarku dihinggapi hening. Sekali saja, pembantu rumah ini masuk ke kamar membawakan secangkir kopi hitam panas dan memberikannya pada Tiar, sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan pintu kamar yang terbuka lebar.

Lelaki itu mematung di dekat ujung ranjang. Sebagian helaian rambut di sisi pelipisnya bergerak tipis, terkena sapuan angin malam yang berembus lembut dari jendela tak jauh dari tempatnya berdiri.

Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama Tiar padaku.

“Bisa kamu terangkan lampu kamarnya?” pintaku. Suara yang keluar mengambang dengan parau, membuat ekspresi Tiar sedikit berjengit.

“Oke kalau itu yang kamu mau. Kupikir matamu akan sakit kalau tiba-tiba melihat sinar yang terlalu terang,” sapanya tenang. “Kamu nggak sadarkan diri dua hari lamanya.”

Aku menghela napas rendah, enggan menatapnya balik.

Satu cetikan pada tombol sakelar, lampu utama kamar menyala. Aku baru meliriknya lagi ketika aku dapat merasakan tekanan di ujung ranjangku. Tiar duduk di sana. Satu tangannya memegang cangkir kopinya, menyesapnya sebentar. Sekilas, aku merasa ingin tertawa miris. Ketika aku membuka mataku tadi, hanya ada ayah dan perawat yang lama berjaga. Gurat usia di wajah ayah membuatku merasa bersalah. Apa ayah tidak tidur karena menjagaku? Tapi tak bisa kupungkiri, senyum leganya ketika aku terbangun membuat dadaku menghangat—sebelum akhirnya aku kembali diguyur dengan perasaan bersalah yang semakin dalam.

‘Berapa pil yang kamu minum?’

Overdosis. Hanya karena beberapa butir obat tidur. Sungguh menggelikan.

Sekelebat, aku teringat sebuah drama Inggris tahun 1930-an yang kupelajari ketika aku masih kuliah. Membayangkannya kembali membuatku menarik napas lebih panjang. Apa sekarang aku menjadi pemeran utama dalam Shadow Play? Terbangun setelah tidur panjang, bermimpi indah, dan bangun dengan realita yang lebih baik dari sekadar mimpi?

Namun Tiar bukan lelaki yang kuinginkan ada di hadapanku sekarang.

Tapi Tuhan memang bukan Noel Coward yang membuat drama karyanya berakhir dengan kisah romantis yang membahagiakan.

Aku meraba selang infus yang tertancap di tanganku. Aliran bening cairan infus terlihat di sana.

“Kamu pasti lapar. Dua hari cuma mendapat nutrisi dari infus,” sela Tiar lagi—seolah membaca pikiranku. Aku mendongak dan menatapnya di ujung ranjang, cukup berjarak sehingga tak terjangkau tanganku. “Atau mau kopi?” Ia menyodorkan cangkirnya.

‘Apa ini ejekan?’ batinku.

Aku melihat ada kotak rokok menyembul di saku kemejanya. Bukankah pergi keluar dan merokok, ditemani secangkir kopi panas, lebih bagus daripada menjaga sepupunya seperti sekarang ini? Jujur saja, ketika kulihat ia masuk ke kamarku dan mendadak bertanya pertanyaan tak terduga seperti tadi, aku merasa ia memang salah sangka—menyangkaku overdosis karena berniat bunuh diri, sementara kenyataannya aku hanya ingin tidur.

‘Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?’

Pertanyaan bodoh itu, mampukah ia meresponsnya kalau sampai aku menjawabnya dengan sungguhan? Alisku berkedut. Mataku menyipit dan aku menatap Tiar dengan tatapan tak ramah.

“Calia?”

‘Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?’

Aku membuka mulutku tipis, membiarkan deburan napas berat terlepas dari sana. “Cinta.”

Tiar mengerutkan dahinya.

“Kamu tanya apa yang aku cari, kan?” sambungku. “Cinta. Aku ingin dicintai.”

Lanjutkan membaca ‘A Cup of Sympathy’

Learning Latin

•25 Januari 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

3461494-lg

 

A bove majori discit arare minor

 

If this wet meadow has drained, I’ll be there. Towards

the sun, I pierce the plow eye. The sharpest part

of this wooden tool is where the farmers lent their praise and soul.

Harvest time is still away, so does the happiness. On you, I learned to bring

 

peat as I fathom what the weather intended to. Even if creak sound from heaven and hissing sound

of whip becomes faint. And fantasy becomes weak, crushed by the grain. I

learned to the one who has been through miserable life. Dragged

a rake to define the paradise in a desert of infinitive.

Lanjutkan membaca ‘Learning Latin’

to io

•25 Januari 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

to io

not-always-the-fairy-tale-by-csnyder

at the end of the rainy year
I ran out of tales
to lull argus
a hundred eyes illuminated
crawling on your body, io

 


 

translated from Bahasa Indonesia by: Me | Image by Google

Poetry taken from:

Gunawan Maryanto. 2015. kepada io. Kompas p. 28. (January 10, 2016)

If You Did Not Reincarnate as Drizzle

•25 Januari 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

If You Did Not Reincarnate as Drizzle

mario-davchevski-classy-womany-rain-boots-carrying-painting-under-her-arm-under-an-umbrella-580x385

If you did not reincarnate as drizzle

perhaps longing in my eyes stay indelible

And the wind just echoes

the crackle sound of fallen leaves

falling into the earth

Lanjutkan membaca ‘If You Did Not Reincarnate as Drizzle’