A Cup of Sympathy

coffee-cups-monochrome-2560x1600-wallpaper

“Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?”

Kamarku remang. Ada sisa-sisa cahaya keemasan dari lampu meja di atas nakas dua laci yang berdiam tepat di samping ranjang. Telah bermenit-menit lamanya kamarku dihinggapi hening. Sekali saja, pembantu rumah ini masuk ke kamar membawakan secangkir kopi hitam panas dan memberikannya pada Tiar, sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan pintu kamar yang terbuka lebar.

Lelaki itu mematung di dekat ujung ranjang. Sebagian helaian rambut di sisi pelipisnya bergerak tipis, terkena sapuan angin malam yang berembus lembut dari jendela tak jauh dari tempatnya berdiri.

Pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama Tiar padaku.

“Bisa kamu terangkan lampu kamarnya?” pintaku. Suara yang keluar mengambang dengan parau, membuat ekspresi Tiar sedikit berjengit.

“Oke kalau itu yang kamu mau. Kupikir matamu akan sakit kalau tiba-tiba melihat sinar yang terlalu terang,” sapanya tenang. “Kamu nggak sadarkan diri dua hari lamanya.”

Aku menghela napas rendah, enggan menatapnya balik.

Satu cetikan pada tombol sakelar, lampu utama kamar menyala. Aku baru meliriknya lagi ketika aku dapat merasakan tekanan di ujung ranjangku. Tiar duduk di sana. Satu tangannya memegang cangkir kopinya, menyesapnya sebentar. Sekilas, aku merasa ingin tertawa miris. Ketika aku membuka mataku tadi, hanya ada ayah dan perawat yang lama berjaga. Gurat usia di wajah ayah membuatku merasa bersalah. Apa ayah tidak tidur karena menjagaku? Tapi tak bisa kupungkiri, senyum leganya ketika aku terbangun membuat dadaku menghangat—sebelum akhirnya aku kembali diguyur dengan perasaan bersalah yang semakin dalam.

‘Berapa pil yang kamu minum?’

Overdosis. Hanya karena beberapa butir obat tidur. Sungguh menggelikan.

Sekelebat, aku teringat sebuah drama Inggris tahun 1930-an yang kupelajari ketika aku masih kuliah. Membayangkannya kembali membuatku menarik napas lebih panjang. Apa sekarang aku menjadi pemeran utama dalam Shadow Play? Terbangun setelah tidur panjang, bermimpi indah, dan bangun dengan realita yang lebih baik dari sekadar mimpi?

Namun Tiar bukan lelaki yang kuinginkan ada di hadapanku sekarang.

Tapi Tuhan memang bukan Noel Coward yang membuat drama karyanya berakhir dengan kisah romantis yang membahagiakan.

Aku meraba selang infus yang tertancap di tanganku. Aliran bening cairan infus terlihat di sana.

“Kamu pasti lapar. Dua hari cuma mendapat nutrisi dari infus,” sela Tiar lagi—seolah membaca pikiranku. Aku mendongak dan menatapnya di ujung ranjang, cukup berjarak sehingga tak terjangkau tanganku. “Atau mau kopi?” Ia menyodorkan cangkirnya.

‘Apa ini ejekan?’ batinku.

Aku melihat ada kotak rokok menyembul di saku kemejanya. Bukankah pergi keluar dan merokok, ditemani secangkir kopi panas, lebih bagus daripada menjaga sepupunya seperti sekarang ini? Jujur saja, ketika kulihat ia masuk ke kamarku dan mendadak bertanya pertanyaan tak terduga seperti tadi, aku merasa ia memang salah sangka—menyangkaku overdosis karena berniat bunuh diri, sementara kenyataannya aku hanya ingin tidur.

‘Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?’

Pertanyaan bodoh itu, mampukah ia meresponsnya kalau sampai aku menjawabnya dengan sungguhan? Alisku berkedut. Mataku menyipit dan aku menatap Tiar dengan tatapan tak ramah.

“Calia?”

‘Apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?’

Aku membuka mulutku tipis, membiarkan deburan napas berat terlepas dari sana. “Cinta.”

Tiar mengerutkan dahinya.

“Kamu tanya apa yang aku cari, kan?” sambungku. “Cinta. Aku ingin dicintai.”

Bukan weekend. Tiar datang lagi ke rumah setelah seminggu lamanya sejak ia terakhir mengunjungiku—dengan percakapan yang terhenti topiknya begitu saja. Aku tak tahu kenapa dia datang lagi, namun aku berspekulasi itu adalah permintaan ayah. Dan ini pasti ada hubungannya dengan Tiar yang memang pernah bersekolah S1 di jurusan Psikologi, sebelum akhirnya ia meneruskan pendidikannya di Belanda bertahun-tahun lalu. Manusia tumbuh dewasa dan aku tak lagi dekat dengan sosok sepupu jauhku itu. Ia pulang ke Indonesia sekitar setengah tahun lalu. Tahu-tahu kudengar ia baru menjalani rentetan sidang perceraian.

Tiar menculikku—ya, aku lebih memilih menyebutnya demikian karena aku memang menolak, namun ia dengan tanpa berdosa menelepon ayah, membuatku membisu tanpa bisa menolak—dan ia membawaku ke Food Junction di daerah Surabaya Barat.

Aku menghindari obrolan dengan Tiar dengan menyabet buku yang tergeletak di kursi belakang mobilnya, berpura-pura sibuk membacanya. Baru halaman pembuka, aku mendesis pelan. Sebuah puisi menyapa mataku. Ada kopi. Benar-benar ‘Tiar sekali’.

 

Tengah malam ini, bintang kehilangan cahaya

Berapa banyak bilangan gerhana yang kita rindukan?

Tapi detak jantung ini berdetak lebih gila,

ketimbang biasanya

Kesedihan terakhir lenyap bersama kepulan asap,

Dari secangkir kopi yang tandas setengah isinya

 

Kami sampai sana agak sore, dan aku bersyukur karena tempat itu tak terlalu ramai. Ia memilih salah satu tenant kecil untuk memesan kopi dan kiwi shortcake.

“Langitnya kalau pas matahari tenggelam pasti bagus.” Kulihat telunjuknya mengarah pada danau kecil, dengan bulatan-bulatan lampion lampu mengambang yang belum dinyalakan. “Terpantul di sana.”

“Kenapa kamu ngebawa aku ke sini?”

“Kita kan udah lama nggak main bareng, Cal.”

Aku mengangkat kedua bahuku. “Kita udah dewasa.”

“Badannya aja.”

Aku menoleh pada Tiar, menatapnya dengan kepala miring. “Maksudnya?”

“Aku denger dari Om, kamu patah hati. Makanya kamu nelen pil tidur sebanyak itu.”

“Aku nggak bunuh diri,” terangku—dengan napas memburu tanpa sadar.

“Aku nggak bilang kamu bunuh diri—” Tiar tersenyum tipis, “—aku bilang, kamu nelen pil tidur, untuk lari dari kesedihan kamu.”

Mataku memicing. Mulutku terbuka, bersiap melontarkan pembelaan diri, namun urung ketika pelayan datang membawa sebaki buttery sponge kue tart bulat berdiameter delapan belas senti, dipenuhi layer buah kiwi dan almond. Pelayan menyapa kami dengan ramah, meletakkan sepasang cangkir kopi dan gula saset.

“Minum kopi—”

“Saya mau tambah, tolong bawakan air mineral sebotol,” potongku cepat tanpa menunggu persetujuan Tiar.

Setelah beberapa derap langkah menjauh dari pelayan muda, kudengar sebuah tawa ringan mengudara. “Aku takjub.”

Mulutku enggan merespons.

“Aku takjub sama kamu.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

Kulihat Tiar mengembangkan senyum simpulnya. Sekali ini, aku menemukan tatapan matanya yang terlihat lelah, terpantul dari kedua iris mata hitamnya. Aku baru sadar, kantung matanya tebal. Bingkai kacamata tak lagi menyembunyikan sorot lelah matanya. Pandangannya membuatku menelan ludah. “Saat didera kesedihan luar biasa, cuma ini pelarianku.” Telunjuk Tiar menyentuh butiran topping serbuk cokelat yang menghias permukaan isi cangkirnya.

Tatapan mataku melunak. Mungkin ia membicarakan soal pernikahannya yang gagal. “Kenapa menolak tidur? Kamu bisa … ya, lari. Sejenak.”

Tiar tersenyum lagi. Ia mendongak mengucapkan terima kasih ketika pelayan tadi kembali, dengan sebotol air mineral yang kupesan. Begitu gadis itu menjauh dari meja kami, Tiar menatapku dan memberi tanda sekilas lewat ekor matanya, menunjuk gadis itu lagi. “Menurutmu, apa yang dicari gadis itu dengan pekerjaannya sebagai pelayan?”

Alisku berkerut.

“Tebak saja,” imbuh Tiar, “itu juga berlaku untuk semua orang yang sedang sibuk bekerja, mengantarkan pesanan, melayani pengunjung.”

“Penghasilan tentu saja. Karir. Jabatan, kalau memang ada jenjang karirnya.”

Tiar kemudian mengangguk-angguk simpul.

Kubiarkan lelaki di hadapanku ini menikmati kopinya sejenak.

“Kamu nggak minum kopimu?” tanya Tiar. “Sungguh, terjaga itu bukan sesuatu yang buruk.”

“Terlelap juga bukan sesuatu yang buruk. Kamu bisa bermimpi sesuatu yang yang indah. Lebih baik … dari kenyataan.”

“Bagaimana kalau malah mimpi buruk?” Tiar terkekeh ringan.

“Lupakan saja. Kalau kamu memang ingin melek segitunya, lakukan sendiri.” Kudorong perlahan cangkir kopiku pada Tiar, dan kuraih botol air mineralku. Lelaki itu mengiriskan potongan kue dan meletakkannya di sebuah piring kecil kemudian menyodorkannya padaku.

“Padahal kopi ini enak sekali.”

“Lupakan. Kenapa kamu tadi nanya soal pekerjaan pelayan di sini?”

Tiar menarik napas sesaat dan menatapku baik-baik. “Aku menyadari sesuatu beberapa bulan terakhir ini.”

“Sesuatu?”

“Manusia terlalu naïf,” ungkap Tiar. “Mereka mencari sesuatu, mengejar sesuatu, yang … yah, bukan sesuatu yang salah, hanya saja kurang tepat. Kamu pasti tahu hukum sebab akibat, kan? Bagaimana bisa manusia menuntut sebuah akibat tanpa menjalani sebab terlebih dulu?”

Aku mengerutkan alisku dalam-dalam.

“Penghasilan, karir, kenapa selalu mendahulukan, menuntut sesuatu yang akan menjadi sebuah akibat jika kamu bahkan belum mengusahakan sebabnya?” jelas Tiar sederhana. “Kenapa tidak mencari ilmu, pengalaman, ketekunan dulu, dan yang namanya akibat pasti akan menjadi buah yang manis?”

Aku membuka bibirku tipis selama beberapa saat. Selama dua menitan, aku memilih diam. Tiar tak menambahkan petuahnya lagi. Sampai akhirnya aku angkat bicara. “Kenapa kamu ngomongin sebab akibat ke aku?”

Tiar mengangkat cangkir kopinya. “Biji kopi ini, tumbuh di tempat yang tepat. Petaninya memikirkan sedemikian rupa prosesnya. Menanam, merawat, menjaga tanamannya, sampai akhirnya panen. Apa menurutmu petani akan menuntut supaya benih kopinya akan menghasilkan secangkir kopi seenak ini?” Lelaki itu melepas kacamatanya yang mengembun terkena uap kopi yang mengepul tipis.

“Tiar, aku nggak paha—”

“Bukannya kamu bilang, kamu mencari cinta?”

Mataku membulat.

“Sebesar apa cinta yang sudah kamu berikan sehingga kamu menuntut untuk dicintai dengan begitu besar?”

Kedua kelopak mataku mengerjap.

Tiar mengulum senyum tipis.

Sekelebat aku memutar memori lama di dalam kepalaku, tentang mantan kekasihku, tentang mimpiku menjadi seorang penulis yang telah kukubur lama karena ayah tak setuju, juga tentang ayah sendiri yang tak pernah ada waktu untukku. Bayangan-bayangan menyesakkan datang bergantian, membuat kepalaku pusing dan aku sontak tertunduk. Kedua tanganku  mencengkeram ujung sweatshirt yang kukenakan.

“Aku berharap aku pernah memberikan perhatian yang besar sebelum aku meminta Jane untuk menyediakan seluruh waktuku,” bisiknya pelan. Nama mantan istrinya ia sebutkan dengan suara parau. “Bukankah kita sama-sama terpuruk?”

Kularikan pandanganku ketika langit berubah jingga. Beberapa lampion menyala, dan cahaya keemasan dari sinar komidi putar mulai dinyalakan di ujung taman.

“Aku … nggak terpuruk.”

Kudengar Tiar menghela napas panjang—membuatku akhirnya menoleh padanya. “Kalau begitu jangan mengonsumsi obat tidur lagi,” pintanya tenang, “om panik sekali waktu tahu kamu overdosis obat tidur. Kalau kamu memang nggak lari dari masalah apa-apa, jangan membiarkan diri kamu tenggelam dalam mimpi panjang. Keluar rumah, mengisi waktu, atau kutemani jalan-jalan.”

“Ke mana?”

“Ke kebun kopi, gimana? Aku tahu kebun kopi yang bagus di Malang.”

Aku mendecak dibuatnya.

“Kita bisa melihat petani kopi, dan minum kopi tumbuk langsung. Aku yakin, kopi lokal pun tidak kalah dari kopi luar negri. Toh, banyak orang tidak tahu kalau kopi Indonesia diekspor ke mana-mana.”

Kugigit bibirku dan tawa kecil lepas sesaat. Kutarik cangkir kopi milikku. Dinding gelasnya tak lagi panas, hanya menyisakan hangat yang diam-diam membuatku merasa nyaman. “Jangan mengonsumsi kopi terlalu banyak.” Kubalikkan permintaannya tadi padaku. “Tante akan panik sekali kalau suatu saat kamu overdosis kopi.”

Tiar tergelak tanpa kuduga.

“Itu kan intinya? Sebab akibat.” Kujulurkan lidahku bak anak kecil, sebelum akhirnya kusesap kopi mocha milikku—menutup percakapan kami di petang hari dengan sebuah senyum tipis.

Kupikir, aku tak seberuntung Victoria Gayforth yang terbangun dari mimpi panjangnya dan mendapati kenyataan berubah menjadi indah. Karena aku yakin, Noel Coward bukan Tuhan. Namun Tuhan yang sesungguhnya nyatanya mengubah kenyataanku dengan caranya yang sederhana.

Lewat Tiar.

Dan secangkir kopi.

Sekaligus simpati.

 

 

 

Surabaya, 20 Agustus 2016

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Iklan

~ oleh nightshadowing pada 20 Agustus 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: